24 C
en

Renungan: Hati yang Menimbang, Bukan Menghukum

Ayat Bacaan: ​"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi." (Matius 7:1) "Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu..." (1 Korintus 2:15)

​Seringkali kita bingung di antara dua kutub. Di satu sisi, dunia sering berteriak "Jangan menghakimi!" sebagai tameng untuk menolak teguran. Di sisi lain, kita takut bersikap kritis karena khawatir dianggap tidak kasih. ​Secara teologis, Alkitab membedakan dengan tegas antara posisi Tuhan dan tanggung jawab orang percaya. 

Mari kita lihat perbedaannya.

​1.Menghakimi (Mengambil Tempat Allah). ​Dalam bahasa aslinya, kata "menghakimi" yang dilarang di Matius 7:1 (Yunani: Krino) dalam konteks ini berbicara tentang penghukuman final. ​Menghakimi yang salah adalah ketika kita: ​Menyerang Pribadi, Bukan Perbuatan: Kita melabeli seseorang "jahat" atau "rusak" secara permanen, seolah-olah tidak ada lagi harapan penebusan bagi mereka.

​Motivasi Kesombongan: Kita menunjuk kesalahan orang lain untuk merasa diri kita lebih suci (munafik). Ini adalah sindrom "selumbar di mata saudaramu, balok di matamu sendiri."

​Menetapkan Vonis Akhir: Ini adalah wilayah kedaulatan Tuhan. Kita tidak tahu isi hati terdalam seseorang dan tidak berhak menentukan keselamatan kekal mereka. Intinya: Menghakimi adalah tindakan mematikan karakter seseorang dengan palu vonis, tanpa kasih dan tanpa keinginan untuk memulihkan.

​2.Menilai (Tanggung Jawab Rohani) ​Sebaliknya, Alkitab memerintahkan kita untuk menilai. Dalam 1 Korintus 2:15 atau 1 Tesalonika 5:21 ("Ujilah segala sesuatu..."), kita diminta menggunakan pembedaan roh (discernment). Menilai yang benar secara Alkitabiah adalah: Melihat Buah (Output): Yesus berkata, "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (Matius 7:16). Kita tidak menghakimi akar (hati) yang tersembunyi, tapi kita wajib menilai buah (perilaku/ajaran) yang terlihat. Apakah buah itu membusukkan atau membangun? ​Untuk Perlindungan: Kita menilai ajaran atau perilaku untuk menjaga kekudusan diri sendiri dan komunitas gereja dari pengaruh buruk (serigala berbulu domba).

​Berdasarkan Standar Kebenaran: Kita tidak menilai berdasarkan selera pribadi ("Saya tidak suka gayanya"), melainkan berdasarkan Firman Tuhan ("Apakah tindakannya sesuai Alkitab?")..​Intinya: Menilai adalah tindakan mendiagnosa kondisi berdasarkan fakta dan Firman Tuhan, dengan tujuan menjaga kebenaran. Ilustrasi Sederhana: Dokter vs. Hakim ​Bayangkan seorang pasien yang sakit parah karena gaya hidup yang buruk. ​Hakim (Menghakimi): Akan berkata, "Kamu bodoh dan tidak berguna! Kamu pantas sakit dan mati saja." (Tujuannya: Menghukum).

​Dokter (Menilai): Akan berkata, "Berdasarkan hasil tes, tubuhmu rusak parah karena kebiasaan ini. Jika tidak bertobat/berubah, kamu akan mati. Mari kita obati." (Tujuannya: Mendiagnosa fakta demi keselamatan/ pemulihan).

Refleksi kita hari ini

​Tuhan memanggil kita untuk menjadi Dokter Rohani, bukan Hakim Agung. ​Kita harus memiliki mata yang tajam untuk menilai mana yang benar dan salah (agar tidak disesatkan), namun harus memiliki hati yang lembut untuk tidak menghukum orangnya. ​Jika hari ini Anda melihat kesalahan pada saudara seiman:.​Periksa hati Anda: Apakah saya ingin dia jatuh, atau saya ingin dia pulih?.​Uji perbuatannya dengan Firman, bukan dengan perasaan. ​Sampaikan kebenaran dalam kasih, bukan dengan arogansi.

Doa

Tuhan Yesus, berikanlah kami hikmat untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat tanpa menjadi sombong. Ajar kami menilai perbuatan dengan standar Firman-Mu, namun jauhkanlah kami dari keinginan untuk mengambil tempat-Mu sebagai Hakim atas sesama kami._ _Mampukan kami menegur dalam kasih dan membangun dalam kebenaran. Amin._

Oleh : Ps. Andre Yosua M (Millenium City Church)
Older Posts No results found
Newer Posts
Barometer Indonesia News
Barometer Indonesia News PT.BAROMETER MEDIA TAMA

Post a Comment

Advertisment
- Advertisement -