News
Peristiwa
Warga Jetak Desa Dukuh Sembung, Waspada Lakukan Pengawasan Luapan Kali Gung Membanjiri Pemukiman
Ketua RT. 13/RW. 3 Dukuh Jetak Desa Desa Dukuhsembung (kaos) putih didampingi warga melakukan pengawasan di bantaran Kali Gung.
SLAWI | BIN.Net Bencana hidrometeorologi diantaranya dengan terjadinya curah hujan ekstrem yang bisa mengakibatkan banjir, banjir bandang, dan tanah longsor dan harus diwaspadai.
Apalagi saat sekarang intensitas curah hujan tinggi yang datang tak terduga. Hal membahayakan bagi masyarakat yang tinggal dekat bantaran sungai besar. Disamping rumahnya terancam banjir, lebih membahayakan tanah tergerus dan merobohkan rumah yang berlokasi dekat sungai.
Seperti Senin malam, 26 Januari 2026, curah hujan dari daerah atas, lereng bukit gunung Slamet cukup tinggi. Kondisi demikian berdampak sungai Gung airnya meluap. Dari luapan tersebut sebagian rumah dekat bantaran sungai kebanjiran.
Sebagai langkah waspada bila banjir meluas, warga Dukuh Jetak RT.13 RW.3 Desa Dukuhsembung Kabupaten Tegal yang dekat dengan Kali/ Sungai Gung melakukan ronda. Warga berjaga bila ada hal membahayakan banjir atau longsor, bisa melakukan langkah pengamanan.
Hal tersebut dibenarkan oleh Luqmanul Hakim, ketua RT.13 RW.3. Menurut ketua RT, pada malam hari ini tanggal 26 Januari jam 22.00 WIB air Sungai Gung sudah naik dan memasuki rumah warga yang lokasinya paling dekat dengan Sungai. Untuk mengantisipasi bahaya, Ketua RT mengumpulkan warga untuk berjaga. Bila air bah dari arah selatan mengalir deras otomatis wilayah Jetak terancam kebanjiran.
Tambah Luqman, panggilan akrab ketua RT. 13, warga lingkungannya dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi seperti hujan ekstrim sudah melakukan pengawasan bersama setiap malam. Warga secara mandiri didasari semangat gotong royong kumpul di Pos Kamling untuk berjaga.
" Tiap malam Kami berjaga dan pas kebetulan sudah ada pos kamling, sehingga bisa untuk sarana kumpul. Selanjutnya setiap saat warga yang hadir bergantian melakukan tinjauan ke lokasi rawan banjir dekat sungai Gung ," jelas Luqman.
Wiwin (51) ,warga setempat menambahkan, Kami melakukan penjagaan didasari rasa tanggung jawab pada lingkungan. Tujuannya mengantisipasi, disaat musim hujan ekstrim seperti ini bila ada bencana banjir ada langkah cepat memberitahukan pada seluruh warga untuk segera melakukan langkah pengamanan.
Walaupun pada tahun tahun sebelumnya belum pernah ada banjir yang menggenangi seluruh kampung. Namun lebih baik berjaga - jaga sambil silaturahmi dengan warga lainnya dan menjaga agar kampung tidak dimasuki maling dari pada tidur sore, tuturnya.
Selanjutnya penyampaian Hadi (50) seorang warga lain, diharapkan bagi semua warga untuk berperan aktif ikut peduli menjaga lingkungan. Karena selama ini dinilai masih banyak yang tidak peduli, tidak pernah kumpul. Padahal bila kumpul menjaga lingkungan bisa sambil bersilaturahmi.
" Saya berharap pada ketua RT untuk membuat jadwal piket ronda, biar semua warga mempunyai rasa memiliki kampung sendiri, jangan merasa hidup mengasingkan diri. Mari kita guyub bergotong - royong menjaga keamanan lingkungan apa saat banyak bencana," tegas Hadi sambil melirik Pak RT, biar responsif.
Laporan : Agusto
Via
News

Post a Comment