-->
24 C
en
Search

Secara Swadaya Warga Bogor Barat Perbaiki Jalan Berlubang, Anggaran Pemeliharaan Jadi Sorotan Publik?

KAB.BOGOR   |  BIN.Net   – Malam itu hujan turun deras di Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor Jawa Barat Genangan air menutupi lubang-lubang besar di jalan utama. 

Refi, seorang Pemuda asal Bogor Barat, baru saja pulang dari pasar dengan motor bebek tuanya. Ia tak menyadari ada lubang menganga di depan. Sekejap, ban motornya terperosok, tubuhnya terhempas ke aspal basah. 

"Beruntung hanya luka ringan, tapi kejadian itu meninggalkan trauma. Saya takut lewat sini kalau hujan. Lubangnya tidak kelihatan,” ujarnya lirih.  

Kisah Refi bukan satu-satunya. Hampir setiap minggu, ada saja pengendara yang terjatuh di ruas jalan Cigudeg, Nanggung, dan Sukajaya. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi mobilitas warga justru berubah menjadi ancaman.  

Sebuah video yang memperlihatkan kondisi jalan rusak parah di wilayah Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, viral di media sosial. 

Dalam video tersebut, sejumlah pemuda menyampaikan kekecewaan mereka terhadap kondisi jalan yang dinilai belum mendapatkan penanganan serius dari pemerintah, Sabtu, 04 April 2026.

Dalam rekaman video tersebut seorang pemuda bernama Refi ia mengungkapkan keluhannya dalam bahasa Sunda. 

“Pak Dedi, ieu kumaha tingali, jalan siga kieu, astaghfirullah,”tegasnya, sambil memperlihatkan kondisi jalan yang penuh kerusakan.

Sementara itu, rekannya yang dibonceng, turut menanyakan status jalan tersebut. Refi kemudian menjelaskan bahwa jalan itu merupakan milik Pemerintah Kabupaten Bogor. 

“Ieu jalan milik Pemda Kabupaten Bogor, Pak Dedi. Rusak kieu, teu aya nu paduli,” ucapnya dengan nada kecewa.

Ketika ditanya lokasi kejadian, menyebutkan bahwa jalan tersebut berada di Kampung Cadas Le’ur, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Ia juga menegaskan bahwa jalan tersebut merupakan akses utama masyarakat setempat, bahkan sambil berteriak memanggil Gubernur Jawa Barat sebagai bentuk harapan agar segera ada perhatian.

Diketahui, ruas jalan Kalongliud–Bantarkaret tersebut merupakan jalan milik Pemerintah Kabupaten Bogor yang selama ini kerap dikeluhkan warga. Minimnya perbaikan dan perawatan membuat kondisi jalan semakin memprihatinkan.

Solidaritas Warga: Menjadi Tukang Jalan Dadakan. Di tengah kondisi yang memprihatinkan, warga memilih tidak tinggal diam. Mereka bergotong royong, menggalang dana swadaya, membeli semen, pasir, dan batu seadanya. Dengan peralatan sederhana, mereka menambal lubang demi lubang.  

Di Desa Cisarua, misalnya, para pemuda kampung turun tangan memperbaiki Jalan Kampung Pongkor. “Kami patungan Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu per orang. Kalau menunggu pemerintah, entah kapan diperbaiki,” kata Ketua Pemuda Kampung Pongkor, Ijam seorang tokoh pemuda. Kamis 09, April, 2026.

Jeritan warga yang tak didengar Vidio yang beredar luas memperlihatkan warga bergotong royong menambal jalan ruksak. Ketua Pemuda Kampung Pongkor Desa Cisarua, Ijam, menuturkan bahwa sejak dibangun tahun 2012, jalan tersebut tidak pernah disentuh perbaikan. Akibatnya, kecelakaan menjadi hal yang nyaris rutin terjadi. "Hampir setiap hari ada yang jatuh, bahkan sampai terjun ke jurang."sambungnya

Aksi swadaya ini bukan hanya soal perbaikan fisik, tetapi juga simbol solidaritas. Warga merasa harus mengambil alih peran pemerintah demi keselamatan bersama.  

Anggaran Misterius Ironisnya, di tengah aksi swadaya warga, anggaran pemeliharaan jalan sebenarnya tersedia. Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) Bogor Barat menyoroti hal ini. Bram Suryadi, perwakilan FKBP, menegaskan bahwa transparansi anggaran adalah kunci.  

“DPUPR Kabupaten Bogor harus membuka data pagu anggaran 2025 dan 2026 secara jelas. Itu uang rakyat dari pajak. Harus dikembalikan dalam bentuk pembangunan dari rakyat untuk rakyat,” tegas Bram. Jum'at 10, April, 2026

Ia menambahkan, perbaikan tidak boleh sekadar tambal sulam. “Masih banyak jalan rusak yang harus segera diperbaiki. Jangan hanya menutup lubang, tapi lakukan perbaikan menyeluruh,” ungkapnya 

Jalan Rusak, Ekonomi Tersendat Kerusakan jalan bukan hanya soal keselamatan, tetapi juga berdampak pada ekonomi warga. Petani di Desa Curugbitung mengeluhkan sulitnya mengangkut hasil panen. Truk pengangkut sering mogok karena terperosok di jalan berlubang. “Kalau hujan, mobil tidak bisa lewat. Hasil panen jadi terlambat sampai pasar,” kata Suprihadi yang akrab disapa Supri Elel salah satu warga Desa Curugbitung. Jum'at 10, April, 2026 

Pedagang kecil pun merasakan dampaknya. Ongkos transportasi naik, harga barang ikut melambung. Jalan rusak menjadi penghambat roda ekonomi lokal.  

Tuntutan warga sejalan dengan Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Pemerintah daerah wajib menyajikan informasi anggaran secara terbuka. Namun hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari DPUPR Kabupaten Bogor.  

Ketidakjelasan ini menambah kekecewaan warga. Mereka merasa hak atas informasi publik diabaikan.  

Harapan di Tengah Keterpurukan Meski kecewa, warga tetap berharap pemerintah segera turun tangan. “Kami tidak minta jalan mulus seperti tol. Cukup diperbaiki agar aman dilalui,”tegas pemuda yang berasal dari Bogor Barat yakni. Refi, Bram Suryadi, Suprihadi pria yang akrab disapa Elel yang masih trauma dengan kecelakaan kecilnya.  

Di Bogor Barat, jalan rusak bukan sekadar infrastruktur yang terbengkalai. Ia adalah cermin dari kesenjangan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan riil masyarakat. Selama pemerintah belum hadir, warga akan terus menjadi tukang jalan dadakan, demi keselamatan dan keberlangsungan hidup mereka.***
Older Posts
Newer Posts

Post a Comment

SCROLL TO RESUME CONTENT