24 C
en

Melampaui Pangkat, Merawat Peradaban: Sebuah Refleksi Filosofis tentang Pendidikan Berkelanjutan Polri

Barometer Indonesia News - ​Dalam lintasan karier seorang perwira kepolisian, momen memasuki Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimmen) atau Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) seringkali dipandang secara pragmatis sebagai "tiket" menuju kenaikan pangkat atau promosi jabatan. Namun, jika kita menyelami lebih dalam menggunakan pisau bedah filosofi keilmuan dan manajemen organisasi, pendidikan ini sejatinya adalah sebuah kawah candradimuka intelektual. Ia bukan sekadar stasiun pengisian bahan bakar untuk karier, melainkan sebuah bengkel besar untuk merestorasi cara berpikir (mindset) dan memperluas cakrawala pandang (worldview) seorang bhayangkara.

​Di tengah gelombang perubahan kehidupan bernegara yang kian tak terduga (disrupsi), fungsi pendidikan ini menjadi fundamental: mengubah "Tukang Kunci Keamanan" menjadi "Arsitek Peradaban".

1.Transisi dari Techne Menuju Phronesis: Tinjauan Filosofis Keilmuan

​Secara filosofis, pendidikan awal kepolisian (Akpol atau SPN) umumnya berfokus pada Techne, yaitu keterampilan teknis atau "know-how". Bagaimana cara menyidik, bagaimana cara menembak, dan bagaimana cara mengamankan massa. 

Namun, ketika seorang perwira memasuki jenjang Sespimmen dan Sespimti, kurikulum kehidupan menuntut perpindahan radikal menuju Phronesis, atau kebijaksanaan praktis.

​Dalam konteks ini, pendidikan berkelanjutan berfungsi untuk menanamkan pemahaman bahwa ilmu kepolisian bukanlah entitas yang mati dan kaku. Ia adalah organisme yang hidup. Hukum tidak bisa lagi dibaca hanya dari teks pasal (positivisme murni), tetapi harus dibaca dari denyut nadi masyarakat (sosiologis-filosofis).

​Sespim mengajarkan bahwa kebenaran dalam pemolisian di era modern bukan lagi soal "siapa yang salah dan siapa yang benar" secara hitam putih, melainkan bagaimana menciptakan keseimbangan sosial (social equilibrium). Seorang perwira siswa diajak untuk tidak lagi melihat masalah dengan "kacamata kuda" reserse atau intelijen semata, melainkan dengan "kacamata elang" yang melihat sosiologi, psikologi massa, ekonomi politik, hingga filsafat moral secara holistik.

​Di sinilah letak revolusi kognitifnya: Perwira tidak lagi dididik untuk sekadar menjadi "robot penegak hukum", melainkan menjadi pemikir strategis yang memahami bahwa setiap tindakan kepolisian memiliki efek kupu-kupu (butterfly effect) terhadap stabilitas negara.

2.Organisasi Sebagai Organisme Belajar: Tinjauan Filosofis Manajemen

​Dari kacamata filosofi manajemen organisasi, Polri adalah sebuah birokrasi raksasa. Bahaya laten dari birokrasi besar adalah inersia—kecenderungan untuk diam dan mempertahankan status quo. Di sinilah peran vital pendidikan Sespimmen dan Sespimti sebagai dinamo pembaharu.

​Peter Senge, dalam konsep Learning Organization, menekankan bahwa organisasi hanya bisa bertahan jika ia belajar lebih cepat daripada perubahan di luarnya. Sespim adalah inkubator untuk Systems Thinking (berpikir sistem). Perwira yang sebelumnya terkotak-kotak dalam ego sektoral—lalu lintas merasa paling penting, reserse merasa paling hebat—dileburkan.

​Filosofi manajemen modern mengajarkan bahwa hirarki hanya berfungsi untuk menjaga ketertiban administrasi, tetapi kolaborasi lah yang memecahkan masalah. Pendidikan lanjutan ini membongkar sekat-sekat tersebut. Ia mengajarkan bahwa seorang pemimpin (Pamen dan Pati) bukan lagi seorang "Komandan" yang hanya memberi perintah dari menara gading, melainkan seorang "Arsitek Sosial" yang mampu mendesain sistem kerja yang adaptif.

​Manajemen bukan lagi soal mengelola benda mati (anggaran, senjata, gedung), melainkan mengelola "jiwa" organisasi. Sespimmen/Sespimti menanamkan filosofi bahwa aset terbesar Polri bukanlah teknologi canggih, melainkan human capital yang memiliki agility (kelincahan) dalam merespons ketidakpastian zaman.

​3.Menghadapi Keniscayaan Perubahan: Panta Rhei dalam Pemolisian

​Filsuf Heraclitus pernah berkata "Panta Rhei", semuanya mengalir, tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri. Indonesia hari ini bukan Indonesia sepuluh tahun lalu. Kita menghadapi era Post-Truth, di mana persepsi publik seringkali lebih kuat daripada fakta hukum. Kita menghadapi kejahatan siber yang tidak mengenal batas negara, serta bonus demografi yang jika salah kelola bisa menjadi bencana sosial.

​Dalam konteks "keniscayaan perubahan" ini, fungsi Sespimmen dan Sespimti adalah sebagai jembatan relevansi. Tanpa pendidikan berkelanjutan yang mendalam, perwira senior akan mengalami gagap zaman. Mereka mungkin memegang pangkat tinggi, tetapi pola pikirnya tertinggal di masa lalu (analog).

​Pendidikan ini memaksa perwira untuk melakukan unlearning (melupakan cara lama yang usang) dan relearning (mempelajari cara baru). Filosofinya adalah kesiapan menghadapi ambiguitas. Jika dulu polisi bertindak reaktif (ada kejahatan baru bertindak), filosofi pendidikan modern menuntut kepolisian yang prediktif dan preventif melalui analisis big data dan kepekaan sosial.

​Perwira lulusan pendidikan ini diharapkan menjadi "jangkar" di tengah badai perubahan. Ketika masyarakat bingung dengan hoaks dan polarisasi, perwira Polri hadir bukan hanya dengan pentungan, tetapi dengan narasi yang meneduhkan dan strategi yang mempersatukan.

​Simpulan: Transformasi Menuju "Police 5.0"

​Pada akhirnya, Sespimmen dan Sespimti bukanlah sekadar formalitas birokrasi. Ia adalah ritual intelektual untuk memastikan bahwa "otak" dan "hati" organisasi Polri terus diperbarui (upgrade).

​Dari kacamata filosofis, pendidikan ini adalah upaya sadar untuk memanusiakan kekuasaan. Kekuasaan (wewenang kepolisian) tanpa dasar keilmuan yang kuat akan menjadi tirani; dan kekuasaan tanpa manajemen organisasi yang baik akan menjadi anarki.

​Pendidikan berkelanjutan adalah investasi peradaban. Ia melahirkan perwira-perwira yang tidak hanya sigap di lapangan, tetapi juga bijak dalam pemikiran. Mereka adalah bhayangkara yang siap menghadapi masa depan, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan kesiapan ilmu dan kematangan jiwa kepemimpinan.

Oleh : Andre Yosua M ( Pengajar Filsafat Ilmu)

Editor   ;   Adhie 
Older Posts
Newer Posts
Barometer Indonesia News
Barometer Indonesia News PT.BAROMETER MEDIA TAMA

Post a Comment

Advertisment
- Advertisement -