-->
24 C
en
Search

Krisis Air Bogor Meledak: Cepi Al Hakim Aktivis HA IPB Warning DAS Irigasi di Jasinga dan Tenjo Lumpuh KNPI Jasinga Teriak

BOGOR  |  BIN.Net  - Aktivis lingkungan sekaligus Wakil Ketua Bidang Lingkungan Himpunan Alumni IPB (HA IPB), Cepi Al Hakim, menegaskan perlunya transformasi pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Jawa Barat. 

Dalam Rapat Komisi Dewan Sumber Daya Air (DSDA) Provinsi Jawa Barat, Selasa (23/06/2026), ia menyoroti krisis air di Kecamatan Nanggung, Jasinga, dan Tenjo, Kabupaten Bogor, sebagai alarm nyata kerusakan sistem hidrologis di kawasan hulu.

Krisis Hulu yang Mengkhawatirkan

  1. Nanggung: Desa Parakan Muncang dan Desa Kalongliud dilanda kekeringan ekstrem, 1.177 jiwa (322 KK) terdampak, puluhan hektar sawah terancam gagal panen akibat irigasi rusak.
  2. Jasinga: Hulu Sungai Cidurian pasca banjir bandang 2026 menyebabkan kerusakan Bendungan Sendung. Desa Sipak, Pamagarsari, Setu, Koleang, hingga Bagoang Pangaur mengalami kekeringan dan gagal panen..
  3. Tenjo:  Desa Bojong juga terdampak, pasokan air tak stabil membuat petani kehilangan hasil panen.

Cepi menilai respons pemerintah masih reaktif, seperti penyaluran 15.000 liter air bersih oleh BPBD, namun belum menyentuh akar masalah.

Kritik Pengelolaan DAS

Menurut Cepi, pendekatan pengelolaan DAS selama ini terlalu kaku, hanya fokus pada biofisik (lereng, tanah, curah hujan), sementara faktor perilaku manusia dan ekonomi-politik penguasaan lahan diabaikan.

“Kecepatan kerusakan kawasan lindung jauh lebih masif dibandingkan laju rehabilitasinya karena keuntungan finansial dari eksploitasi lahan lebih memikat daripada nilai konservasi,” tegasnya.

Tiga Pilar Rekomendasi Strategis

Cepi mendesak DSDA Jawa Barat mengadopsi tiga langkah konkret: Integrasi hukum dan valuasi ekonomi: Deliniasi hulu-hilir harus jadi produk hukum mengikat, terintegrasi dengan NPAP dan valuasi air.

Transformasi pemulihan fisik: Fokus pada perbaikan irigasi teknis dan sistem resapan air, bukan sekadar rehabilitasi vegetatif.Penegakan ekologi sosial: Pemilik lahan di hulu wajib menjaga kelestarian lingkungan demi keberlangsungan di hilir.

Cepi menegaskan, “Hulu yang dijaga akan mengalirkan kehidupan, sementara hulu yang dirusak akan mengalirkan bencana.” Ia berharap rekomendasi DSDA mampu menyelamatkan petani dan masyarakat yang kini menghadapi krisis air."ungkapnya 

Sebelumnya ramai di beritakan hal tersebut mendapatkan perhatian publik yang mana Program ketahanan pangan berbasis swadaya yang digagas Pengurus Kecamatan (PK) KNPI Jasinga bersama Kelompok Tani Dasa Mitra Mandiri menuntaskan masa tanam dengan melakukan panen padi di Kampung Tarisi, Desa Bagoang, Kecamatan Jasinga, Sabtu (20/06/2026). Namun, hasil panen yang diperoleh jauh dari harapan akibat persoalan irigasi yang belum tertangani secara maksimal.

Ketua PK KNPI Jasinga, Ama Dery, mengatakan minimnya hasil panen bukan semata-mata disebabkan musim kemarau, melainkan terganggunya distribusi air ke lahan pertanian akibat kerusakan dan penyumbatan saluran irigasi.

"Persoalan hari ini bukan hanya kekeringan, tetapi bagaimana penanganan saluran irigasi pascabencana di Kecamatan Jasinga yang belum maksimal. Banyak sawah di wilayah hilir seperti Desa Bagoang dan Desa Pangaur mengalami kekeringan karena saluran irigasi tersumbat sedimentasi, ditumbuhi rumput, bahkan mengalami kerusakan," ujarnya usai panen.

Menurut Dery, kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat yang mayoritas menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian.

Ia menilai jika lahan pertanian tidak lagi produktif, maka akan muncul persoalan baru berupa meningkatnya angka pengangguran di pedesaan.

Melalui program ketahanan pangan yang dijalankan di Kampung Tarisi, KNPI Jasinga ingin merasakan secara langsung tantangan yang dihadapi petani.

Dari lahan yang ditanami sekitar dua kotak sawah, hasil yang diperoleh dinilai tidak sebanding dengan upaya yang telah dilakukan.

"Kami yang baru sekali menanam saja sudah merasakan miris. Apalagi para petani di sini yang sudah enam tahun menghadapi persoalan yang sama," katanya.

Dery mengungkapkan sejumlah petani bahkan mulai mengalihkan lahannya untuk tanaman lain karena air tidak lagi mampu menjangkau areal persawahan mereka.

Ia menilai persoalan tersebut membutuhkan penyelesaian serius, terutama melalui dukungan anggaran untuk perbaikan jaringan irigasi.

Selama ini, kata dia, pihaknya juga rutin berkomunikasi dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Irigasi Jasinga mengenai kondisi saluran irigasi Sendung-Cidurian-Sodong yang menjadi sumber pengairan bagi banyak lahan pertanian di wilayah tersebut.

"Persoalan irigasi tidak akan selesai tanpa dukungan anggaran. Banyak masyarakat yang bergantung hidup pada sektor pertanian ini," tegasnya.

Dery mengaku hasil panen tahun ini menjadi gambaran nyata kondisi yang dialami petani.

Bahkan, berdasarkan cerita petani setempat, pada 2015 lahan dengan luasan serupa masih mampu menghasilkan beberapa karung gabah. Sementara panen kali ini tidak menghasilkan hingga satu karung gabah.

Karena itu, ia berharap Pemerintah Kabupaten Bogor dapat memprioritaskan penanganan jaringan irigasi Sendung-Cidurian-Sodong agar aktivitas pertanian masyarakat kembali normal.

"Saya selalu memohon kepada Pak Bupati dan Pak Wakil Bupati agar persoalan irigasi Sendung-Cidurian-Sodong ini segera diselesaikan karena menyangkut kehidupan masyarakat,"pungkasnya.***
Older Posts
Newer Posts

Post a Comment

SCROLL TO RESUME CONTENT