-->
24 C
en
Search

Ketika Mimbar dan Papan Tulis Tak Lagi Sakti: Mereset Ulang Peran Agama dan Sekolah demi Menyelamatkan Anak Kita



Barometer Indonesia News - Berita hari ini sering kali terasa seperti pil pahit yang sulit ditelan. Kita disuguhi tajuk utama yang mengoyak nurani: anak belasan tahun menjadi pelaku perundungan brutal, geng motor remaja yang tak ragu melukai, hingga anak-anak malang yang menjadi korban eksploitasi dan kekerasan di lingkungan terdekatnya.

Di tengah kengerian ini, sebuah pertanyaan besar menggantung di udara: Di mana benteng moral kita? Selama ini, kita selalu mengandalkan dua institusi raksasa sebagai pelindung moralitas: rumah ibadah dan sekolah. Namun, ketika angka kejahatan yang melibatkan anak—baik sebagai pelaku maupun korban—terus meroket, kita harus berani jujur. Jangan-jangan, ada yang salah dengan cara kita mendidik dan beragama. Jangan-jangan, mimbar kita terlalu sibuk bicara surga-neraka, dan papan tulis kita terlalu sibuk mengejar nilai ujian nasional, hingga lupa pada jiwa anak-anak yang sedang merintih sedih.

Saatnya kita melakukan reformulasi. Tokoh agama dan pendidik harus "turun gunung" dan mereset ulang cara mereka hadir di kehidupan anak-anak kita.

Teologi Kehidupan: Memandang Anak Utuh sebagai Titipan Semesta

Pendekatan kita selama ini sering kali parsial. Anak nakal dihukum, anak taat dipuji. Padahal, realitas kejahatan anak jauh lebih rumit. Anak yang menjadi pelaku kekerasan sering kali adalah korban dari kekerasan yang lebih dulu ia terima—entah dari keluarga yang hancur, atau dari lingkungan yang menolak kehadirannya.

Dalam perspektif teologi umum—lintas agama dan kepercayaan—setiap anak lahir sebagai percikan suci dari Sang Pencipta. Mereka adalah lembaran murni yang dititipkan semesta. Teologi tidak boleh lagi sekadar dipahami sebagai kumpulan ritual atau dogma kaku yang menghakimi, melainkan teologi kehidupan.

Artinya, ketika seorang anak jatuh dalam kriminalitas, kita tidak langsung mengecapnya sebagai "pendosa" atau "anak nakal yang pantas dihukum". Sebaliknya, kacamata teologi universal mengajak tokoh agama untuk bertanya: Bagian mana dari luka jiwanya yang belum tersentuh oleh kasih sayang Tuhan melalui tangan kita?

Dari Menghakimi Menjadi Merangkul: Langkah Aplikatif yang Holistik

Reformulasi ini bukan sekadar teori di atas kertas. Pendekatan holistik berarti melihat anak tidak hanya dari sisi intelektual (sekolah) atau spiritual (agama), tapi juga psikologis, emosional, dan sosial.

Lalu, apa yang secara aplikatif bisa dilakukan oleh tokoh agama dan pendidik kita?

1. Ubah Rumah Ibadah dan Sekolah Menjadi "Ruang Aman" (Safe Space)

Sering kali, anak lari ke jalanan karena rumah ibadah terasa terlalu suci untuk mereka yang merasa kotor, dan sekolah terlalu menuntut bagi mereka yang lelah. Tokoh agama dan guru harus memposisikan diri sebagai pendengar, bukan sekadar penceramah. Biarkan anak-anak datang dengan segala kebingungan dan amarah mereka tanpa takut dihakimi, diceramahi, atau dikeluarkan.

2. Berhenti Sekadar Mentransfer Pengetahuan, Mulailah Mentransfer Empati

Pendidik tidak boleh lagi bangga hanya karena anak didiknya jago matematika, tapi buta terhadap penderitaan temannya. Kurikulum harus disisipi pendidikan empati secara nyata. Begitu pula tokoh agama; khotbah di masjid, gereja, vihara, atau pura harus mulai secara gamblang membahas isu kesehatan mental, perundungan, dan kekerasan di rumah, bahasa yang relevan dengan Gen-Z dan Alpha.

3. Sinergi Lintas Batas (Kolaborasi Holistik)

Guru dan tokoh agama tidak bisa lagi jalan sendiri-sendiri. Harus ada forum dialog komunitas tempat guru, pemuka agama, psikolog, dan orang tua duduk bersama. Jika seorang guru melihat ada anak yang mulai menunjukkan tanda-tanda depresi atau agresif di sekolah, ia bisa menggandeng tokoh agama setempat untuk melakukan pendekatan personal kepada keluarga tersebut, memberikan ruang curhat yang berlandaskan nilai spiritual dan psikologis.

4. Mengakui Bahwa Anak Pelaku Adalah Korban yang Gagal Kita Lindungi

Ini mungkin yang paling provokatif namun nyata. Sistem peradilan dan pendekatan sosial kita harus beralih dari sekadar punitive (menghukum) ke restorative (memulihkan). Pendidik dan tokoh agama harus menjadi garda terdepan yang mengadvokasi hak pemulihan bagi anak—baik yang terluka karena menjadi korban, maupun yang "terluka" sehingga menjadi pelaku.

Membangunkan Raksasa yang Tertidur

Tokoh agama dan pendidik adalah raksasa peradaban. Jika mereka hanya diam di menara gading, anak-anak kita akan terus dimangsa oleh kerasnya jalanan dan kejamnya algoritma dunia maya.

Angka kejahatan anak tidak akan turun hanya dengan menambah jumlah pasal di kepolisian atau menambah jam bimbingan konseling di sekolah. Kejahatan anak hanya bisa diputus ketika anak-anak merasa dicintai, didengar, dan dimanusiakan. Dan itu adalah tugas utama agama dan pendidikan.

Sudah waktunya mimbar kembali menyuarakan kasih sayang yang merangkul, dan papan tulis kembali menuliskan harapan. Karena jika kita gagal menyelamatkan satu anak hari ini, kita sedang menyiapkan bencana peradaban di masa depan.

#Oleh: Andre Yosua M.

Editor  :  Red-Adhi 
Older Posts
Newer Posts
Admin Barometer Indonesia News
Admin Barometer Indonesia News PT.BAROMETER MEDIA TAMA

Post a Comment

SCROLL TO RESUME CONTENT
SCROLL TO RESUME CONTENT