News
Peristiwa
Pernyataan Kepala UPT Cigudeg soal Jalan Rusak Tuai Sorotan
BOGOR | BIN.Net – Pernyataan Kepala UPT Infrastruktur Jalan dan Jembatan Kelas A Wilayah VI Cigudeg, Bobby Wahyudi, memantik gelombang kritik.
Alih-alih menjawab substansi persoalan jalan rusak yang memicu kecelakaan, ia justru diduga menyudutkan wartawan yang memberitakan insiden tersebut.
Dugaan itu muncul dari percakapan WhatsApp antara Bobby dan Dede Surya, pewarta yang disebut telah terverifikasi Dewan Pers.
Percakapan berlangsung setelah Dede menyampaikan informasi terkait kecelakaan truk terperosok yang diduga akibat kondisi jalan rusak.
“Ini kan yg dede inginkan, kalau saja tadi pemeliharaan dikerjakan dahulu di Cibeber–Malasari mungkin hari ini tidak akan kejadian lagi, malah Jalan Ace Tabrani yg relatif lebih landai yg didahulukan,” tulis Bobby, Rabu (4/3/2026).
Kalimat tersebut sontak membuat Dede tersentak.“Lah kok nyalahin saya, maksudnya apa pak,” balasnya. Namun respons berikutnya justru dinilai mempertegas arah tudingan.
“Maksudnya ada lokasi yg lebih urgent yg harus ditangani segera tapi malah di-blow up yg di Ace Tabrani.”
Pernyataan itu dianggap memberi kesan bahwa pemberitaan pers menjadi penyebab prioritas pekerjaan berubah.
Jika benar demikian, publik berhak bertanya: sejak kapan kontrol sosial dianggap biang persoalan? Sebagai pilar demokrasi, kerja jurnalistik dilindungi undang-undang.
Pers menyampaikan fakta, bukan menentukan anggaran maupun prioritas proyek. Tugas wartawan adalah mengabarkan, bukan mengatur alat berat.
Sorotan juga datang dari Koordinator Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) Bogor Barat, Supri Elel. Putra daerah Kecamatan Nanggung itu mengaku heran dengan logika yang disampaikan pihak UPT.
“Dikatakan lokasi landai lebih bahaya, itu jatuh karena memang titiknya harus direkonstruksi. Walaupun kelihatannya bagus, kalau konstruksinya bermasalah tetap saja berpotensi ada korban,” tegas Elel.
Ia menambahkan, warga sudah berulang kali meminta rekonstruksi menyeluruh di ruas tersebut. Bahkan, menurutnya, aduan sudah disampaikan hingga langsung ke bupati karena kecelakaan kerap terjadi.
“Kami sudah berkali-kali meminta jalan itu direkonstruksi. Sampai kami WA langsung ke bupati soal jalan rusak dan seringnya kecelakaan di sana. Tapi nyatanya?” ujarnya.
Polemik ini memperlihatkan persoalan yang lebih besar dari sekadar percakapan WhatsApp. Ketika jalan rusak memakan korban, publik berharap solusi, bukan saling lempar tanggung jawab.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak UPT terkait dugaan penyudutan terhadap wartawan tersebut.****
Via
News


Posting Komentar