Artikel
Renungan: Anak Penyamun di Sarang Perawan
Bacaan Penuntun: Lukas 23:39-43 (Kisah Penjahat yang Bertobat) atau Efesus 2:8 (Kasih Karunia).
Sebuah Paradoks Kehidupan
Bayangkan judul di atas sebagai sebuah lukisan. Di sana ada seorang anak penyamun—seorang yang lahir dari kekerasan, hidup dari mengambil apa yang bukan haknya, terbiasa dengan debu jalanan dan bau kejahatan. Namun, anak ini tidak berada di penjara atau di padang gurun yang gersang. Ia justru ditemukan sedang meringkuk tertidur di "Sarang Perawan"—sebuah tempat yang suci, tak bernoda, putih, dan penuh kelembutan.
Secara logika, ini adalah pemandangan yang salah. Si anak penyamun seharusnya mengotori sarang itu. Atau sebaliknya, kesucian sarang itu seharusnya menolak kehadiran si anak yang kotor.
Namun, inilah inti dari Injil dan kasih karunia Tuhan.
1.Kita Adalah Si Anak Penyamun
Seringkali, kita merasa harus menjadi "bersih" dulu sebelum mendekat kepada Tuhan. Kita berpikir bahwa tempat kudus hanya untuk orang-orang yang moralnya sempurna. Namun, jika kita jujur melihat ke dalam hati, kita semua memiliki sisi "Anak Penyamun" itu:
- Kita mencuri kemuliaan Tuhan untuk kebanggaan diri sendiri.
- Kita merampas sukacita orang lain dengan kata-kata tajam.
- Kita "menyamun" waktu yang seharusnya untuk Tuhan, kita pakai untuk kesenangan sia-sia.
Kita datang dengan baju yang kotor oleh dosa, tangan yang kasar, dan hati yang curiga. Kita merasa tidak layak.
2.Misteri Sarang Perawan (Rahim Kasih Karunia)
"Sarang Perawan" dalam metafora ini melambangkan Hadirat Tuhan yang Maha Kudus. Dalam konsep manusia, yang suci tidak boleh bersentuhan dengan yang najis. Tapi dalam konsep Ilahi, Kesucian Tuhan itu agresif.
Kesucian Tuhan tidak menjadi kotor saat disentuh oleh pendosa; sebaliknya, pendosa itulah yang menjadi tahir saat disentuh oleh Kesucian-Nya.
Ingatlah bahwa Tuhan tidak menunggu kita mandi bersih baru boleh masuk. Ia mengizinkan "Anak Penyamun" itu masuk ke dalam "Sarang Perawan"—ke dalam perlindungan kasih karunia-Nya—saat ia masih kotor.
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Markus 2:17).
3.Transformasi Melalui Penerimaan
Apa yang terjadi pada anak penyamun yang diizinkan tinggal di tempat yang begitu murni?
Ia tidak berubah karena dimarahi. Ia tidak berubah karena dipukul. Ia berubah karena ia diterima.
Ketika kekasaran bertemu dengan kelembutan yang tulus, kekasaran itu luluh. Ketika si penyamun menyadari bahwa ia dicintai oleh Sang Murni tanpa syarat, hatinya hancur—bukan karena takut hukuman, tapi karena rasa syukur yang mendalam.
Di "Sarang Perawan" ini, identitas lama kita (penyamun/pendosa) tanggal perlahan-lahan, digantikan dengan identitas baru: Anak Terkasih.
Refleksi Pribadi
Hari ini, mungkin Anda merasa terlalu kotor, terlalu rusak, atau terlalu "liar" untuk bisa tenang di hadirat Tuhan. Mungkin Anda merasa seperti serigala yang menyusup ke kandang domba.
Tetapi sadarilah: Tuhan sudah tahu siapa Anda, dan Ia tetap membukakan pintu.
- Jangan lari dari kesucian-Nya karena malu.
- Biarkan kesucian dan kasih-Nya menyelimuti "baju kotor" Anda.
Hanya di dalam "Sarang" kasih karunia-Nya, sifat "Penyamun" dalam diri kita bisa disembuhkan. Bukan dengan usaha keras kita untuk jadi baik, tapi dengan berdiam di dalam kasih-Nya yang tak masuk akal.
Doa Penutup
"Tuhan, aku datang sebagai anak penyamun. Tanganku kotor dan hatiku seringkali liar. Aku tak layak berada di hadirat-Mu yang suci bagaikan sarang perawan yang murni. Namun, terima kasih karena Engkau tidak mengusirku. Engkau justru mendekapku. Ubahlah hatiku yang keras ini dengan kelembutan kasih-Mu. Jadikan aku layak, bukan karena perbuatanku, tapi karena cinta-Mu. Amin."
Oleh Pdm Andre Yosua
Editor : Red-Adhi
Via
Artikel

Post a Comment